← Kembali ke beranda Jawamu Piye

Kecap, Ngecap: Tragedi pada Pendengaranku Selama Ini

Kali ini saya ingin bercerita tentang penderitaan batin yang selama ini saya pendam sendiri, dalam sunyi, dan yang cukup menggelitik dalam pikiran saya di beberapa hari belakangan ini. Hal-hal yang menjadi sumber kegundahan saya ini seolah memecah kesunyian disaat fokus mengerjakan sesuatu.

Ceritanya begini, suatu waktu saya sedang fokus untuk menulis sebuah konten yang akan segera diunggah. Deadline mepet, dan konten ini merupakan konten yang based on trend, dan tidak masuk ke dalam kalender konten mingguan yang sebelumnya saya buat.

Ditengah kesunyian ruang kerja mezanine berukuran cukup sempit, ya kira-kira ukuranya 5 meter kali 4 meter dan juga berisi 4 orang didalamnya, menyeruak aroma nasi bungkus yang dibuka oleh kawan kerja saya. Dalam sekejap aroma tersebut menyebar seiring dengan hembusan udara segar AC yang ada diruangan. Dan yap, jantung saya mulai berdegup kencang, seolah ada trauma yang sedang mengganggu fokus saya.

Kawan saya, bisa kita sebut dia dengan Kijang, tentu ini bukan nama yang sebenarnya. Kijang mulai menyuapkan makanan kemulutnya yang sudah terbuka dan siap melahap dengan penuh nikmat. Sesaat setelah makanan itu masuk kedalam mulutnya, suara-suara lumatan nasi dan tempe orek mulai terdengar tipis-tipis memekik di telinga saya. "Clap... Clap... Clap.." suara yang beriringan dengan gerakan derit gigi si Kijang. Jantung saya mulai berdebar kencang, seolah ingin rasanya untuk memekikkan suara sambil menggebrak podium kerja saya, "Heyy... Manusia-manusia ngecap!". Ruangan yang sebelumnya sunyi dan hening, berubah menjadi penuh dengan pengeras suara masjid yang seolah digunakan nonton live streaming orang mukbang.

Saya sempat mikir, "Duh, mungkin saya yang terlalu baper, terlalu sensitif, wong ya cuma suara orang makan, kok segitunya.".  Sampai akhirnya saya mulai mencari tahu, dan alhamdulillah, saya nggak sendirian. Ada beberapa orang yang juga bernasib sama dengan saya.

Nah Ini Dia, Namanya Misophonia.

Kondisi saya ini dinamakan misophonia, jika saya terjemahkan bebas kurang lebihnya begini, "..kondisi dimana otak saya sedang salah paham, dengan mengira suara kunyahan itu adalah ancaman nyawa saya..". Jennifer Brout, psikolog yang juga mendirikan Misophonia Research Network, mengatakan bahwa ini semacam warisan yang sudah diturunkan dari jaman purba. Dulu nenek moyang kita sangat waspada dengan suara kunyahan karena bisa menjadi pertanda bahwa makanan yang dimiliki oleh mereka akan direbut, atau ada predator yang habis menguyah mangsanya sedang diam-diam mengincar kita. Jadi kalau saya risih mendengarkan orang makan dengan ngecap, mungkin secara tidak sadar otak primitif saya masih berpikir kalau saya mau dimakan Hiena.

Caitlin Stone, seorang peneliti dari UNC Greensboro, mengatakan suara-suara terkait makanan, lip-smacking, suara seruputan kopi dan mie itu memang menjadi pemicu paling umum, dan biasanya sudah terdeteksi sejak remaja. Menurut Heather Hansen, direktur Misophonia Research Network, menambahkan bahwasanya orang bisa merasa jijik bahkan marah jika mendengarkan suara itu, dan biasanya reaksi yang ditunjukkan itu nggak sebanding dengan sumber suara pengganggu itu. Jaelline Jaffe, psikoterapis di LA yang khusus menangani hal semacam ini juga bilang manusia seperti saya ini seakan berubah ke mode siaga perang. Seolah sedang mendapat ancaman, padahal hanya orang yang sedang makan disebelah saya.

Dr. Srinivas Dannaram, seorang psikiater di Banner Health, mengemukakan bahwa riset terkait kondisi ini masih terbilang baru dan cukup kompleks, dipengaruhi oleh biologis, psikologis, hingga sosial. Menurut survey Laura Dixon dan tim tahun 2024, lebih dari empat ribu responden, 78,5% orang ternyata risih dengan suara-suara pemicu seperti ini, tapi hanya 4,6% yang levelnya sudah masuk kategori klinis. Yang paling meyakinkan, Dr. Sukhbinder Kumar dari Newcastle University lewat penelitian MRI yang tembus jurnal Current Biology menemukan bukti fisik bahwa, struktur otak orang dengan misophonia itu berbeda. Salah satu buktinya ada di pola mielinasi pada area prefrontal.

Terus, Ini Soal Sopan Santun Juga, Nggak Sih?

Wah, ya ini  yang bikin saya berpikir dua ratus lima puluh kali sebelum menyimpulkan, ternyata persoalan makan bersuara ini juga masuk dalam pembahasan tata krama, bukan hanya urusan telinga sensitif semacam saya. Panduan etika makan yang sering dipakai di seluruh penjuru dunia menyebutkan pada saat kita makan, kunyahlah makanan dengan mulut tertutup, kunyah makanan dengan pelan, dan usahakan tidak ada orang yang bisa mendengar suara kunyahan kita. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa suara kecipak-kecipuk orang lain saat makan itu bisa mgenakibatkan bulu kuduk berdiri. Ya, jadi reaksi saya ini ternyata cukup umum dan tidak hanya milik saya sendiri.

Tapi, ini bagian yang membuat saya nggak berani main hakim-hakiman sendiri dan menyalahkan orang lain. Aturan yang saya sebutkan sebelumnya ternyata bukan hukum alam yang berlaku di semua belahan dunia. Disebagian tradisi tiongkok, menyeruput sup babi dengan bunyi  justru malah dianggap sebagai pertanda bahwa masakannya enak. Sementara itu, di Jepang, suara "slruppp..." saat makan mi bahkan dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada yang masak. Yang satunya berprinsip "Say No to Ngecap" di belahan dunia yang lain bisa jadi dianggap pujian.

Jika kita tarik dari budaya Jawa yang juga sering saya temui disaat momen-momen perjamuan makan di depan luweng (tungku masak kayu bakar) bersama simbah maupun orang tua saya. Mereka seolah beranggapan bahwa makan dengan tenang dan tidak bersuara itu adalah bagian dari unggah-ungguh, atau tata krama, menghormati orang yang makan bersama kita. Tapi, sekali lagi saya tidak berani klaim ini sebagai aturan baku, karena saya belum menemukan rujukkan tertulis yang benar-benar spesifik terkait ini. Jadi anggap saja ini sebagai pengamatan dan pendapat pribadi, bukan sebagai fatwa yang harus dipatuhi oleh seluruh umat.

Jadi, Sopan atau Enggak?

Saya dengan terpaksa dan sengaja untuk tidak mau menyimpulkan ini sebagai fenomena yang benar atau salah. Soalnya begitu saya bilang "..Makan ngecap itu nggak sopan!" saya sadar klaim itu akan menjadi berat sebelah, karena di budaya lain, hal yang sama justru dianggap wajar, bahkan dianggap sebagai pujian. Dan begitu saya bilang "..Risih ih dengan suara makan itu berlebihan!" saya juga menyepelekan sesuatu yang berhubungan dengan neurologis.

Kembali saya tegaskan semua tadi bukalah vonis, tapi dua fakta yang berdiri sendiri-sendiri. Pertama ada orang yang secara neurologis memang bereaksi terhadap suara makan, dan itu bukan sebuah kebohongan atau tindakan berlebih. Kedua, standar 'sopan' terhadap suara makan itu berbeda-beda, jadi ya nggak ada satu aturan yang bisa dipakai untuk menghakimi orang.

Perkara mana yang lebih benar, antara boleh menyuarakan kerisihan atau kebiasaan orang yang harus dihormati apa adanya, saya kembalikan kepada sampeyan semua sebagai pembaca. Saya cuma penderita yang kebetulan kepo kenapa saya begini, dan saya bukan yang mulia Hakim yang berhak menentukan siapa yang salah.

Memuat artikel...